English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Wanita Modern. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita Modern. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

SAATNYA WANITA MODERN MERENOVASI GAYA HIDUP

Wanita masa kini identik dengan segudang kesibukan. Tiada hari tanpa aktivitas, demikian agaknya slogan yang tertanam di benak kaum Hawa. Pengakuan sebagai wanita modern yang mempunyai wawasan dan pergaulan luas begitu penting sehingga kesehatan, harta yang paling berharga dan mahal, kerap dinomorentahkan baik secara sadar atau tidak. Padahal sejumlah penelitian telah mengungkapkan data gangguan kesehatan serius pada orang-orang yang (terlalu) aktif. Berikut ini akan dipaparkan aspek-aspek gaya hidup yang membahayakan kesehatan beserta sejumlah penyakit sebagai dampaknya.
Merokok. Walaupun tingkat kepeduliannya pada penampilan lebih tinggi daripada pria, sekarang ini cukup banyak wanita yang terbiasa merokok. Padahal jelas-jelas rokok berdampak kurang baik pada penampilan seperti gigi menguning (pada tingkat tertentu bahkan menjadi coklat kehitaman), kulit wajah yang kusam, dan nafas kurang sedap. Tidak jarang mereka mengisap rokok di tempat umum sehingga orang lain yang berada di dekatnya turut menanggung resiko terhirupnya asap rokok tersebut (perokok pasif). Dengan derasnya arus informasi yang beredar dan meningkatnya kecerdasan rata-rata masyarakat dewasa ini, para perokok bukannya tidak tahu akan bahaya rokok dan berbagai racun yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi mereka berdalih bahwa kebiasaan ini sangat membantu konsentrasi dalam bekerja dan menghilangkan perasaan gelisah yang memang kerap menghinggapi para wanita.
Seperti halnya kaum pria, para wanita mencoba rokok sebagai bahasa pergaulan. Umumnya para perokok juga mengkonsumsi kopi dalam kadar yang cukup besar dan frekuensi minum cukup sering, bahkan bisa berkembang pada kebiasaan yang lebih buruk yaitu minum minuman beralkohol. Pergaulan dan menghormati tamu atau relasi dalam jamuan bisnis dapat dijadikan alasan untuk mencoba-coba minum, apalagi semakin banyak tempat hiburan yang menjual bebas minuman seperti ini.
Ada juga wanita yang memandang rokok sebagai sarana menurunkan berat badan. Benar memang, isapan sebatang rokok saja sudah membuat mulut terasa pahit dan menghilangkan selera makan. Bisa dibayangkan seandainya yang diisap lebih dari satu batang per hari dan rokok tersebut termasuk kategori kretek atau rokok yang berat. Tidak sedikit perokok yang tahan lapar hanya dengan makan sekali  sehari asalkan bisa menikmati sebatang rokok. Jika selera makan tidak terpengaruh, mereka merasa kurang jika tidak mengakhirinya dengan mengisap rokok. Padahal meskipun berat badan dapat diturunkan, hasilnya tidak sememuaskan diet dengan panduan yang benar sebab tubuh kurus akibat merokok sangat tidak sehat dan sama sekali tidak segar. Alih-alih mendapatkan tubuh langsing dan ideal, para perokok justru jatuh sakit dan menjadi kurus secara drastis akibat serangan macam-macam penyakit yang dideritanya, antara lain jantung koroner dan stroke. Dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok, wanita perokok
mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk mengalami ganguan menstruasi
dan kanker leher rahim, serta dapat lebih cepat mengalami mati haid
(monopause) satu sampai dua tahun. Kekeliruan cara menekan berat badan ini akibat keinginan yang tergesa untuk mempertahankan kelangsingan tubuh dengan jalan pintas. Padahal bila perokok menghentikan kebiasaannya, 79% dari mereka memang akan bertambah berat badannya, namun pertambahan rata-ratanya hanya 2,3 kg.

Pola makan yang salah. Kesibukan yang cukup padat tidak memungkinkan wanita mengatur pola makan dengan gizi seimbang. Karena harus mengejar waktu dan khawatir terjebak kemacetan dalam perjalanan, sarapan pun kerap kali diabaikan. Makan siang pada jam istirahat yang singkat dan kadang-kadang terlambat karena adanya rapat menyebabkan para wanita makan seadanya sekedar untuk mengganjal perut. Jamuan relasi bisnis yang seringkali dilakukan di restoran-restoran semakin membuat wanita terbiasa melahap makanan santap saji yang kandungan lemaknya sangat dominan, kurang nutrisi, dan kurang serat. Tanpa serat, usus halus akan menyerap seluruh lemak dan gula yang dimakan dalam waktu relatif singkat, sehingga perut akan cepat menjadi lapar kembali. Didukung kebiasaan wanita yang umumnya suka makan makanan kecil (ngemil), pola makan kurang serat dapat menyebabkan kegemukan.
Kegemukan maupun obesitas adalah pemicu kolesterol tinggi yang akan meningkatkan resiko terjadinya stroke, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus tipe-2 hingga 3-4 kali. Jantung koroner dan stroke lebih mematikan dibanding penyakit demam berdarah, bahkan pada penderita berusia muda. Pada peringatan World Heart Day yang jatuh pada 28 September 2003 lalu, ditemukan bahwa tingkat kematian wanita kanker jantung dan stroke ternyata lebih tinggi 8 kali lipat dibanding kematian akibat kanker payudara. Di samping itu, berat badan berlebihan juga beresiko akan hipertensi.
Stres. Wanita yang sibuk akrab dengan stres. Sumber masalah yang membebani pikiran dari hari ke hari beragam, mulai dari tekanan pekerjaan, keluarga yang menuntut perhatian, sampai ketegangan dalam perkawinan (bagi para ibu rumahtangga). Stres dilampiaskan pada konsumsi makanan berlemak tanpa pertimbangan dan rokok, mengingat kondisi stres menyulitkan kita berpikir jernih. Padahal makan berlebihan dan asap rokok tidak memecahkan masalah yang dihadapi, justru merugikan kesehatan sehingga menimbulkan masalah baru. Pada saat stres, jantung berdebar lebih keras dan cepat, tekanan darah meningkat. Maka seharusnya stres ditangani dengan cara yang lebih baik lagi aman bagi kesehatan.
Kurang istirahat. Jika makan yang bernutrisi saja sudah ditempatkan di peringkat nomor sekian, apalagi istirahat. Wanita-wanita sibuk cenderung mengabaikan gejala-gejala awal suatu penyakit karena merasa tidak terlalu terganggu, lebih mementingkan pekerjaan di depan mata, atau memilih penanganan instan dengan obat-obatan warung yang dijual bebas (misalnya ketika sakit kepala) sehingga dapat melanjutkan kembali kegiatannya seperti biasa. Kerap kali kita memaksakan aktivitas di luar kemampuan tubuh yang terbatas kendati kita tahu, ibarat pohon, tubuh perlu dipelihara, dijaga, dan dirawat dengan sebaik-baiknya agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Kurang olahraga. Beberapa pekerjaan menuntut seseorang mengorbankan hari libur sehingga ia bahkan tidak sempat melakukan olahraga ringan sekalipun. Sesungguhnya hal ini tergantung pada kemampuan mengatur waktu belaka. Namun kita cenderung suka menunda dan menganggap sepele kebugaran tubuh hingga lambat-laun kita melupakan rencana berolahraga dan tidak melakukannya sama sekali. Banyak alternatif tersedia bagi wanita yang sibuk, misalnya video kebugaran dengan berbagai metode yang dapat disesuaikan, alat-alat fitness untuk dipergunakan di rumah, sampai program televisi di pagi hari. Namun selalu saja kita diperbudak kesibukan dan lagi-lagi kalimat “tidak ada waktu” menjadi kambing hitam.
Memprioritaskan kesehatan dan meluruskan gaya hidup wanita pada rambu-rambu yang sesuai untuk itu, seperti didengung-dengungkan dalam program World Health Day yang lalu, adalah cara terbaik untuk mencegah serangan penyakit stroke dan jantung yang mengerikan. Yang harus mulai kita lakukan adalah sebagai berikut:
Ucapkan selamat tinggal pada rokok. Banyak metode yang bisa dicoba untuk menerapkannya, mulai dari mengurangi konsumsi rokok secara bertahap, menggantinya dengan permen, sampai yang bersifat terapi dan “pemaksaan” seperti menghilangkan anggaran rokok dari pengeluaran bulanan atau membuang semua rokok dan korek api yang dimiliki. Perhatikan sinar mata yang tidak lagi redup, rambut yang lebih berkilau, dan kulit wajah yang tidak lagi kuyu ketika selangkah demi selangkah Anda berhenti merokok. Membatasi pergaulan dengan para perokok juga merupakan cara ampuh, karena selain mengakibatkan Anda terseret kembali dalam kebiasaan merokok, kesehatan Anda terancam karena terpapar asapnya. Merokok adalah sesuatu yang adiktif dan membutuhkan kemauan keras lagi sungguh-sungguh untuk meninggalkannya. Tempuh cara psikologis bila perlu. Ketika bangun tidur di pagi hari, katakan pada diri sendiri, “Saya dapat bekerja dengan baik tanpa bantuan rokok,” atau “Saya dapat menikmati hidup tanpa membuang uang untuk rokok.”
Pastikan tubuh cukup serat. Caranya? Bersahabatlah dengan sayuran. Suatu diet yang kaya dengan sayuran dan buah-buahan berkaitan dengan kolesterol rendah. Beberapa penelitian menganjurkan suatu hubungan antara makan sayur-sayuran dengan mengurangi resiko kanker, dibanding menghabiskan waktu untuk memutuskan sayuran mana yang akan dimakan untuk mencegah penyakit tertentu. Sayuran segar dan berdaun hijau, labu kuning, wortel, brokoli, tomat, dan bawang putih baik untuk tubuh. Tentukan siasat yang cocok bagi diri sendiri. Seandainya Anda penggemar roti, imbangi dengan menyelipkan daun selada atau tomat di dalamnya (seperti burger). Selingi cemilan sehari-hari dengan sayuran yang dapat dimakan mentah seperti wortel dan kacang panjang. Bila Anda gemar makan bakso atau mi ayam, tambahkan sawi yang banyak. Komposisikan sayur-sayuran yang dimasak sehingga tampilannya menarik dipandang mata sekaligus menimbulkan selera makan. Buah-buahan merupakan alternatif diet yang sehat serta manjur untuk menetralisir kadar lemak dalam tubuh. Para ahli menganjurkan konsumsi apel minimal sebuah setiap hari. Bukan hanya penyakit ringan seperti flu dan diare yang bisa ditangkal dengan apel, tapi juga kanker, serangan jantung, dan stroke. Ancaman kekeroposan tulang sebagai salah satu efek menopause juga dapat ditekan dengan buah  satu ini.
Sebaliknya, ekstra selektiflah pada kandungan lemak dalam makanan yang dikonsumsi. Batasi keju, margarin, daging dan susu. Pilih minyak tak jenuh untuk mengolah bahan makanan. Jangan lupakan air putih yang berguna melarutkan lemak. Kurangi minuman bersoda, es krim, dan yang manis-manis sampai taraf secukupnya saja. Minimalkan apabila Anda sudah bermasalah dengan berat badan.
Jangan menunda istirahat. Ingat, tubuh kita bukan mesin (bahkan mesin pun dapat mengalami kerusakan parah yang tidak dapat direparasi jika diforsir terus-menerus). Istirahatkan mata yang lelah karena menatap layar komputer berjam-jam setiap harinya. Biasakan menolak tegas tugas yang berlebihan. Uang lembur sebesar apapun takkan dapat menebus keletihan yang akan mengakibatkan menurunnya stamina di hari tua nanti (bahkan bisa lebih cepat lagi) karena kurang tidur dan terpaan angin malam. Untuk apa kantung menggelembung bila seluruh pendapatan hasil kerja keras itu habis sia-sia di rumah sakit?  Bagi Anda yang terbiasa workaholic, disiplin pada jam istirahat mungkin agak sukar. Istirahat tidak selalu berarti tidur, bahkan ada orang yang malah merasa lemas dan pusing kalau tidur siang. Pejamkan mata barang setengah jam, bersantai sambil membaca buku, atau mendengarkan musik yang lembut. Hal terakhir juga sangat membantu jika Anda mengalami kesulitan tidur.
Olahraga sekarang juga. Tidak ada alasan untuk tidak mengerakkan badan, sesibuk apapun Anda. Mulailah dengan yang ringan-ringan, seperti berjalan kaki yang dikenal sebagai olahraga murah meriah tapi sangat besar manfaatnya. Tinggalkan kursi putar, beranjaklah dari tempat duduk dan berjalan bila hendak menggunakan telepon. Kecuali sangat terburu-buru dan kantor atau apartemen tempat tinggal Anda berada di lantai sepuluh, tak ada salahnya membiasakan diri naik turun tangga daripada lift. Rasakan berat badan yang stabil dan tubuh tak lagi mudah lelah. Nafsu makan pun timbul sewajarnya karena kita berkeringat. Jangan hamburkan uang dengan membeli perangkat fitness yang mahal dan hanya akan teronggok di sudut rumah. Bermain bola di pagi hari dengan anak-anak pun termasuk olahraga, lebih-lebih jika Anda tinggal di lingkungan yang masih asri dan belum tercemar polusi. Jadwalkan olahraga mulai sekarang, karena inilah cara yang sangat efektif untuk menumpas segala jenis penyakit dan keluhan dari tubuh. Tunggu apa lagi? 
http://rinurbad.multiply.com

Wanita Modern Masa Kini

CITRA ideal wanita Indonesia masa kini memang belum ada pembakuan yang pasti. Dengan kata lain, citra ideal yang muncul masih sangat beragam, tumpang tindih, bahkan simpang siur. Tidak ada keseragaman dan kesepakatan konseptual ikhwal citra ideal wanita zaman modern ini.

Yang terjadi adalah bahwa para wanita menjalani peran sosialnya secara improvisatoris. Tak jarang, mengikuti pola-pola yang sedang dominan dan menjadi acuan banyak orang. Hal ini tentu saja sekadar reaksi dari tiadanya pembakuan citra ideal wanita masa kini. Semuanya serba reaktif, dan tanpa perencanaan yang jelas, untuk tidak menyebut ngawur.

Tradisional dan Modern

Di kota-kota besar misalnya, peran ideal wanita yang dibangun secara sosial adalah menjadi bagian dari peran-peran modernisasi dan ekonomisasi. Dengan kata lain, wanita akan disebut ideal jika dia berkarier akibat dibentuk oleh atmosfir kebudayaan kota yang dipengaruhi oleh nilai-nilai modernisme dan kapitalisme.

Hal itu jelas berbeda dengan konsepsi ideal di kawasan kota-kota kecil atau di pedesaan. Pandangan kuno yang menyebutkan peran wanita konco wingking (teman di belakang) masih dominan dan menjadi acuan tunggal bagi wanita yang lahir, tumbuh, dan besar di kawasan ini. Bagi mereka, menjadi wanita ideal adalah menjadi wanita yang tidak terlalu berpikir serius soal pekerjaan, karier, dan sejenisnya.

Wanita ideal dalam versi masyarakat tradisional adalah menjadi bagian sistem kebudayaan kolot yang menempatkan wanita sebagai komponen rumah tangga yang berperan sebagai "teman bagi pria". Sebagai teman, dirinya tidak boleh menonjol, apalagi menjadi pemeran utama, yaitu pria. Kalaupun para wanita harus mencari nafkah, itu semata karena kondisi yang memaksa. Itu hanya sekunder.

Idealnya, di mata para kaum tradisionalis, wanita itu sebaiknya tetap di rumah, mengurus suami dan anak. Wanita tidak boleh terlalu terpesona oleh tawaran modernisme dan kapitalisme yang dapat memberinya peran dalam mekanisme kebudayaan tersebut.

Dua Citra Ideal
Apabila dicermati, pada dasarnya kaum wanita masa kini menghadapi masa transisi yang lumayan panjang dalam kaitan pemenuhan citra idealnya sebagai wanita. Di satu sisi, ada tawaran untuk mengarungi arus modernisme dengan segala dinamikanya cenderung mempesona. Di sisi lain, peran tradisional yang dibakukan selama berabad-abad dan sudah melembaga dalam kebudayaan, menawarkan romantisme akan peran wanita yang luhur, yaitu menjadi ibu rumah tangga.
Dua citra ideal yang saat ini diperhadapkan kepada kaum wanita itu terus saja membayang-bayangi langkah mereka. Hal ini menjadi lebih terasa ketika seorang wanita berada di tengah-tengah struktur mobilitas sosial, misalnya sedang menempuh pendidikan tinggi.
Adalah jelas bahwa, perguruan tinggi sebagai bagian dari institusi modern merupakan tangga suatu mobilitas sosial. Para wanita yang masuk di dalamnya hampir dapat dipastikan memperoleh semacam tiket untuk mengakses struktur sosial yang lebih tinggi, entah itu pekerjaan, prospek ekonomi, presentasi, dan prestise (gengsi). Tidak semua wanita beruntung dapat masuk ke perguruan tinggi. Ini berarti, tak semua wanita bisa punya tiket untuk mengakses struktur kemoderenan. Dan justru di sinilah letak masalahnya. Di satu sisi mereka punya peluang untuk menjadi wanita hebat, wanita perkasa yang dapat mandiri secara sosial ekonomi. Tetapi di sisi lain, mereka juga merasa khawatir dengan peran-peran lama yang ditawarkan oleh romantisme kebudayaan tradisional. Akankah mereka bisa menjadi wanita ideal dengan mengacu kepada modernisme melulu ?
Ada gejala di Indonesia, terutama di kota-kota besar, kaum wanita mulai banyak yang mempertanyakan (menggugat) konsepsi citra ideal wanita masa kini. Benarkah menjadi wanita ideal itu mesti berkarier dan mencari nafkah? Itulah tema yang saat ini mulai menyentak kesadaran kaum wanita yang masuk dalam dunia modern dengan segala pesonanya yang begitu menjanjikan dan, kadang-kadang, memabukkan.
Kisah seorang wanita karier stres karena tidak menikah pada usia senja, rasanya sudah klasik. Kendati demikian, ini memang menjadi suatu masalah paling serius yang dihadapi para wanita modern yang sudah memastikan diri terjun menjadi wanita karier. Di hadapannya terbentang masalah besar: apakah dia harus memihak karier, dan mengesampingkan segala tuntutan tradisional bahwa seorang wanita mesti menikah dan melahirkan keturunan.

http://forumgadis.blogspot.com

Islam Bagi Wanita Modern

Penterjemah: A.Q.Khalid
Agama Islam sesungguhnya memang untuk wanita modern karena kaum wanita mengalami perwujudan eksistensi dengan turunnya agama Islam 1500 tahun yang lalu. Mungkin terdengar ajaib bagi anda bahwa melalui Islam-lah maka wanita bisa menjadi modern dan memperoleh hak-haknya, suatu hak yang masih diperjuangkan sebagian wanita di bagian lain dunia sampai saat ini.
Citra umum yang dikemukakan tentang wanita Muslim adalah gambaran dari kaum wanita yang tertekan, terpaksa menikah dengan orang yang bukan pilihannya, terbelenggu pada pengaturan dan keinginan suami serta keluarganya, tidak boleh mendapat pendidikan, tidak boleh mengemukakan pendapat, tidak boleh meninggalkan rumah tanpa menutup muka dan rias wajah sama sekali dilarang. Namun izinkan saya untuk menjernihkan pandangan ini karena citra tersebut bukanlah gambaran hakiki dari kaum wanita dalam Islam.
Apa yang menarik wanita kepada agama Islam adalah karena hanya agama ini saja yang benar-benar memberikan kesamaan hak dan kemerdekaan. Sejak dari zaman purba masa Yunani dan kerajaan Rumawi, wanita dianggap sebagai mahluk yang lebih rendah daripada laki-laki dan tidak memiliki kemerdekaan. Bahkan kaidah agama yang datang kemudian juga ternyata tidak memberi keringanan kepada wanita di masa itu seperti yang ditetapkan dalam kitab Kejadian 3:16: ‘Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Ku-buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”’
Sampai dengan abad keenam, kondisinya malah menurun dan bertambah buruk:
‘Di Arabia sebelum Islam dan di bagian dunia lainnya, kondisi wanita sama saja dengan budak belian atau sebagai benda milik yang tidak mempunyai hak. Wanita tidak bisa memiliki harta atau pun mewarisi kekayaan. Dalam masalah rumah tangga, mereka tidak mempunyai hak atas anak-anak mereka atau pun diri mereka sendiri. Suami mereka bisa menjual atau meninggalkan mereka kapan yang bersangkutan menginginkan. Jika mereka disiksa oleh suami, sebagai isteri ia tidak memiliki hak mengajukan gugatan cerai. Wanita tidak memiliki status nyata di dalam masyarakat, tidak dihormati sebagai isteri, ibu atau pun sebagai anak putri. Bahkan anak-anak perempuan seringkali dianggap tidak ada harganya dan banyak yang dibunuh pada saat lahir. Wanita tidak mendapat pendidikan dan tidak punya suara dalam masalah keagamaan karena mereka dianggap terbatas keruhanian dan daya inteleknya.’ (Pathway to Paradise)
Banyak dari kondisi di atas masih terdapat di Barat sampai abad 19 dan 20, sedangkan dengan kedatangan Islam maka wanita modern langsung mewujud eksistensinya. Islam adalah agama kedamaian. Arti kata Islam sendiri adalah damai dan penyerahan diri (kepada kehendak Allah swt). Agama ini memberikan petunjuk norma-norma kehidupan yang lengkap bagi seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang waktu mendatang. Orang yang mengikuti dan mengamalkan akidah ini disebut sebagai Muslim. Umat Muslim mengimani bahwa Tuhan menciptakan diri kita dengan suatu tujuan dan Dia telah memberikan arahan serta petunjuk agar kita berusaha beribadah kepada-Nya, mematuhi aturan-Nya dan mengkhidmati kemanusiaan. Al-Quran menyatakan:
‘Dan tidaklah Aku menciptakan jinn dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.’ (S.51 Adz-Dzariyat:57)
Seorang Muslim meyakini bahwa Tuhan akan menilai dan menghakimi perbuatan dan kelakuannya selama hidup di dunia, untuk mana ia akan memperoleh ganjaran atau hukuman pada kehidupan di akhirat. Tuhan telah memberikan petunjuk kepada manusia dalam hidup ini berbentuk Kitab Suci Al-Quran dan ajaran Rasulullah Muhammad saw. Guna memahami peran wanita dalam masyarakat modern, kita harus memahami terlebih dahulu konsep kebersamaan di antara laki-laki dan wanita dalam Islam. Al-Quran secara kategoris menyatakan kesamaan derajat laki-laki dan wanita, bahkan dari sejak awal diciptakannya manusia.
‘Dia telah menciptakan kamu dari diri seorang, kemudian Dia menjadikan daripadanya jodohnya. . .’ (S.39 Az-Zumar:7)
Al-Quran juga menyatakan bahwa kapabilitas keruhanian wanita itu sama dengan laki-laki:
‘Barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki atau pun perempuan, sedang ia mukmin maka mereka yang serupa ini akan masuk surga dan mereka sedikit pun tidak akan dianiaya biar sebesar alur biji korma pun.’ (S.4 An-Nisa:125)
Dalam agama Islam, status wanita adalah sama dengan laki-laki, meski ada perbedaan yang timbul karena bentuk tubuh. Jika perbedaan ini tidak diperhitungkan maka tidak akan ada diskriminasi di antara kedua jenis itu, misalnya dalam olahraga jadinya wanita bisa dipertandingkan dengan pria. Seorang petinju wanita jadinya bisa diadu dengan seorang petinju pria. Tetapi nyatanya kita tidak menemui hal demikian karena alam sudah mengatur laki-laki dan wanita masing-masing memiliki bentuk tubuh, fungsi, kapabilitas dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu tugas dan tanggungjawab mereka dalam masyarakat juga berbeda. Kitab suci Al-Quran menyatakan:
‘. . . dan turutilah fitrah yang diciptakan Allah yang sesuai dengan fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. . .’ (S.30 Ar-Rum:31)
Salah satu contoh perbedaan fungsi dan kapabilitas ialah wanita bisa mengandung anak sedangkan laki-laki tidak. Hanya wanita yang fitratnya memiliki ciri phisiologis dan psikologis untuk melakukan hal itu. Lagi pula untuk itu wanita cenderung lebih sabar, lembut hati dan rasa keterikatan selama mengandung anaknya, hal mana menjadikan dirinya sebagai yang paling tepat untuk membesarkan anak-anak. Karena itulah Islam menganjurkan wanita untuk tinggal di rumah guna mengurus keluarganya.
Adapun laki-laki, fitrat phisik dan emosionalnya dirancang lebih kuat dan karena itu lebih tepat untuk kehidupan di luar rumah sehingga Islam menetapkan peran mereka sebagai penjaga, pelindung dan pencari makan, semuanya itu merupakan tanggungjawab yang selaras dengan kebutuhan mereka. Sebagai seorang suami, laki-laki menjadi penjaga keluarga dan dianggap sebagai kepala rumah tangga. Semua itu bukan masalah superioritas laki-laki dan inferioritas wanita, tetapi lebih kepada kapasitas alamiah dan fungsi sepatutnya, sejalan dengan peran yang diberikan oleh alam kepada mereka. Wanita Muslim yang mengikuti petunjuk tersebut menyatakan bahwa mereka menikmati harga diri, stabilitas dan kepuasan dalam hidup, yang adalah faktor-faktor yang pada umumnya tidak ada dalam masyarakat kini.
Islam telah mengatur posisi ekonomis daripada wanita dan memberikan kepadanya hak untuk memiliki kekayaan dan harta benda sendiri, suatu hak yang baru dinikmati wanita Eropah pada tahun 1882 (atau 13 abad setelah turunnya Islam) karena sebelum itu segala miliknya otomatis menjadi milik suaminya jika ia kemudian menikah. Islam memberikan keamanan ekonomis kepada wanita dan membebaskan dirinya dari tanggungjawab mencari nafkah. Namun wanita Muslim tetap boleh bekerja jika ia menginginkan sepanjang masih dalam perimeter ajaran Islamiah dan sepanjang fungsi dan kewajibannya kepada rumah dan keluarga tidak terpengaruh. Jika wanita Muslim bekerja maka semua penghasilannya adalah miliknya sendiri yang bebas ia gunakan untuk apa pun. Jika ia kemudian memasukkan penghasilannya itu untuk keperluan rumah tangganya maka tindakannya itu dianggap sebagai suatu kebaikan tersendiri. Hak demikian memberikan kebebasan finansial yang absolut, ketenangan dan kenyamanan kepada wanita Muslim, suatu hak yang didambakan oleh wanita lain dalam masyarakat sekarang.
Begitu juga pada saat perkawinan, Islam telah memberikan perlindungan pada status ekonomi wanita melalui sistem uang mahar. Dalam hal ini seorang suami diwajibkan memberikan sejumlah uang tertentu kepada pengantinnya. Perkawinan merupakan lembaga yang paling penting karena menjadi unit dasar dari suatu masyarakat. Hazrat Muhammad Rasulullahsaw bersabda: ‘Nikah adalah syariatku, siapa yang tidak mengikutinya maka ia bukanlah daripadaku.’ Tanpa adanya akad nikah maka wanita bisa disalahgunakan sebagai obyek pemuas nafsu semata. Karena itulah Islam memastikan bahwa melalui perkawinan tercipta suatu ikatan yang memberikan hak kepada wanita yang tidak bisa digantikan dengan persahabatan atau perserikatan dalam bentuk apa pun. Al-Quran menggambarkan suami dan isteri sebagai pakaian satu bagi yang lainnya yaitu dalam bentuk rasa aman, kehormatan dan sebagai hiasan.
Tujuan daripada perkawinan dalam Islam adalah:
1. Memungkinkan pria dan wanita untuk hidup bersama guna menghayati kasih dan kebahagiaan serta kepuasan batin dalam akidah Islamiah.
2. Guna menghasilkan keturunan serta menyediakan lingkungan yang stabil dan saleh bagi pendidikan mereka.
3. Memberikan suatu ikatan hukum yang akan memelihara masyarakat dari degradasi moral dan sosial.
Islam memandang perkawinan sebagai sarana melalui mana dorongan dan kebutuhan fitrat manusia, baik phisikal mau pun emosional, bisa dikendalikan tetapi juga tersalurkan pada saat yang bersamaan. Pemuasan nafsu phisikal yang tidak terkendali dan tanpa batasan, sama sekali tidak diizinkan dalam Islam. Perzinahan atau hubungan seks bebas dianggap sebagai dosa besar. Seorang pria Muslim tidak bisa begitu saja mendatangi seorang wanita hanya dengan tujuan untuk memuaskan nafsu badaniah semata. Ia hanya bisa melakukannya melalui suatu ikatan hukum pernikahan yang juga membawa tanggungjawab, tugas dan kewajiban atas keluarga dan anak-anak sepanjang sisa hidupnya.
‘Hasil dari adanya restriksi seperti itu ialah terciptanya suatu masyarakat yang akhlak dan stabilitasnya akan terjaga baik.’ (Pathway to Paradise)
Mengenai perceraian, Islam memberikan hak kepada wanita untuk mengajukan gugatan cerai. Tidak ada pada agama lain di dunia ini dimana wanita bisa menikmati kebebasan seperti itu, dan baru pada abad ke 19 wanita Perancis dan Inggris bisa memperoleh independensi demikian.
Islam memang mengizinkan isteri lebih dari satu, namun membatasinya hanya sampai empat orang, sedangkan pada berbagai masyarakat dan agama lain tentang batasan jumlah isteri ini tidak diatur. Kesalah-pahaman yang mengemuka sekarang ini tentang poligami ialah karena dianggap hanya sebagai pemuas nafsu dan kenikmatan badaniah semata, padahal pandangan demikian adalah hal yang salah. Sesungguhnya Islam membolehkan poligami hanya berdasarkan kondisi dan persyaratan tertentu saja, dimana seorang pria harus bertanggungjawab penuh secara moral dan finansial atas setiap wanita yang dikawini dan anak-anak yang dilahirkan olehnya. Al-Quran menegaskan bahwa:
‘. . . Dan jika kamu khawatir kamu tak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang perempuan saja.’ (S.4 An-Nisa:4)
Dengan demikian Islam menegah poligami tidak resmi yang sekarang ini marak dalam masyarakat modern dimana seorang pria bisa saja mempunyai gundik berapa maunya, untuk jangka waktu singkat satu malaman, perselingkuhan dan sebagainya. Ketiadaan kendali akhlak telah menjadikan monogami tercederai. Dua perang dunia yang lalu telah menimbulkan degradasi akhlak di Eropah dan Amerika dimana rasio laki-laki dan wanita pada beberapa tempat menjadi 1 pria dibanding 3 wanita. Melalui sistem poligami yang diajarkan Islam, sebenarnya akan bisa dipelihara nilai-nilai akhlak dan spiritual kaum wanita dan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam Islam, kegiatan memperoleh pendidikan merupakan kewajiban, baik bagi pria mau pun wanita. Hazrat Muhammad Rasulullahsaw bersabda: ‘Menjadi kewajiban bagi tiap Muslim dan Muslimah untuk mencari pengetahuan.’ Adanya pengetahuan akan memungkinkan setiap orang untuk berfikir secara logis dan nalar. Melalui pengetahuan seseorang bisa memperoleh pemahaman yang akan mencerahkan kebijaksanaannya. Kenyataannya pendidikan merupakan hal yang amat penting bagi wanita karena ia bertanggungjawab membesarkan generasi yang akan datang. Ketika pendidikan sudah menjadi bagian dari wanita Islam, di Barat pada masa lalu jika ada wanita yang menunjukkan punya sedikit pengetahuan, langsung saja ia akan dianggap sebagai wanita sihir dimana ratusan ribu dari mereka kemudian dibakar hidup-hidup pada api unggun. Adalah suatu fakta bahwa baru pada tahun 1886 seorang wanita bisa mengikuti ujian di Cambridge Exam Board dan baru pada tahun 1948 seorang wanita bisa memperoleh gelar sarjana dari Cambridge. Sebagian besar dari kalian pasti tercengang mengetahui bahwa baru tahun 1920 wanita boleh diterima di Oxford. Sampai dengan tahun 1953, guru wanita gajinya lebih rendah dibanding pria yang berprofesi sama di sekolah yang sama untuk jangka waktu yang sama. Sampai dengan tahun 1955, pegawai negeri wanita memperoleh penghasilan yang lebih kecil dari pria dimana perjuangan mereka mencari persamaan hak belum juga selesai sampai sekarang.
Tidak ada yang lebih menggugah perbincangan selain tentang sepotong kain yang dikenakan seorang wanita Muslim sebagai penutup kepalanya. Terdapat kesalah-pahaman yang menganggap cadar itu sebagai tanda penindasan atau pengekangan, padahal bagi seorang wanita Muslim, cadar itu merupakan tanda dari perlindungan, kehormatan dan harga diri. Cadar bukanlah tanda otoritas laki-laki di atas wanita karena tujuan utamanya adalah untuk menjaga wanita dari keburukan dalam masyarakat. Al-Quran menyatakan:
‘Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman bahwa mereka hendaknya merundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka memamerkan kecantikan mereka atau perhiasan mereka kecuali apa yang dengan sendirinya nampak dari kecantikan itu, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka. . .’ (S.24 An-Nur:32)
Islam memberikan cara-cara penjagaan di muka sehingga wanita tidak sampai dilecehkan. Mencegah sesungguhnya lebih baik daripada memperbaiki kemudian. Petunjuk cara berpakaian dan menutup tubuh telah membantu memperkecil daya tarik dan godaan bagi pria kepada wanita dan karena itu wanita menjadi terpelihara dari segala masalah yang dihadapi masyarakat modern, seperti perkosaan, kehamilan muda, aborsi, AIDS dan lain-lain. Lagi pula adanya cadar memberikan ketenteraman bagi kedua pasangan. Karena acara-acara pertemuan juga dilakukan terpisah maka wanita tidak usah merisaukan adanya perempuan lain yang mencoba menggoda suaminya, dan demikian juga sebaliknya. Aspek dari segregasi (pemisahan menurut jenis) serta cadar akan mengurangi kadar kecemburuan dan rasa rendah diri di antara para wanita yang biasanya suka mencuat di hadapan kaum pria.
Sejarah dan fakta menuntun diri saya untuk meyakini bahwa Islam sesungguhnya sebuah agama modern dan adalah masyarakat yang biasanya hanyut terbawa arus coba-coba untuk kemudian kembali lagi pada ketentuan yang telah digariskan Islam berabad-abad yang lalu. Apa yang kelihatannya modern itu sebenarnya telah diturunkan 1500 tahun yang lalu. Karena itu, berbeda dari anggapan modern, sebenarnya wanita Muslim memiliki kehormatan harga diri dan kepuasan serta tidak dihalangi untuk mengejar karier dalam bentuk apa pun atau pun kegiatan sehat lainnya. Wanita tetap bisa mengikuti olahraga, lari marathon, menjalankan usaha, menjadi dokter atau pengacara atau juga diplomat. Bahkan ia bisa saja maju mencalonkan diri sebagai presiden kalau mau. Ia memiliki kebebasan dalam memilih pasangan yang akan memberi nafkah baginya dan bagi keluarganya. Ia boleh mengajukan gugatan cerai dan kemudian menikah lagi. Ia bisa pergi kemana suka dan melakukan apa yang disukainya sepanjang ia membatasi diri menurut ajaran Islam serta purdahnya. Atau ia bisa memilih santai saja di rumah dan menikmati kemerdekaan ekonomisnya.
Saya adalah seorang Muslim kelahiran Inggris. Saya tidak merasa dibatasi. Saya tidak terkebelakang. Saya memiliki kemerdekaan dan kebebasan penuh melalui Islam dan karena itu saya menyimpulkan: ‘Islam adalah untuk wanita modern dan ia mewujud eksistensinya bersamaan dengan turunnya Islam sekitar 1500 tahun yang lalu.’
Referensi:
1. Al-Quran dengan terjemahan dan tafsir singkat (1987), Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ed. 2.
2. Alkitab, Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 2002.
3. Pathway to Paradise, a guidebook of Islam, Lajna Imaillah USA, Ahmadiyya Movement in Islam.
4. Al-Fazal, 18 Januari 2002, pidato tentang Status Wanita dalam Islam oleh Khalifatul Masih IV saat Jalsah Salanah 26 Juli 1986.
5. Review of Religions, My Role and Rights as a Muslim Woman” oleh Mrs. Aziza Rahman, September 1999, h.29-45.
6. Woman in Islam, Sir Muhammad Zafrullah Khan, Islam International Publications Ltd.

Minggu, 11 Juli 2010

Wanita Modern

Ekonomi merupakan kebutuhan baku dasar manusia yang tidak bisa dipungkiri, bahkan Al-Qur'an sendiri secara eksplisit memerintahkan kepada kita untuk bekerja, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an: "Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumu'ah: 09)



Pada zaman Rasulullah sendiri, istilah "wanita karier" sudah mulai bermunculan. Diantaranya "Siti Khadijah", beliau adalah seorang janda dermawan yang disunting oleh Rasulullah Saw. dan menginfakkan sebagian hartanya untuk kepentingan agama. Maka dari itu, tidak ada larangan bagi wanita untuk menjadi wanita modern (wanita karier-red.), akan tetapi yang harus ditekankan, ekonomi bukanlah tujuan hidup melainkan hanyalah sebuah sarana untuk menopang sisi-sisi kehidupan lainnya.



Sisi-sisi kehidupan yang dimaksud diantaranya membentuk keluarga yang sakinah (Q.S. Ar-Rûm [30] :21). Makna keluarga sendiri dalam agama merupakan sebuah tiang agama dalam kehidupan, karena keluarga itu sendiri merupakan sebuah komunitas. Islam sendiri menitikberatkan pada solidaritas dan kekompakan kolektif masyarakat, akan tetapi kekompakan tersebut tidak akan bisa didapat tanpa kekuatan dan kepedulian di dalamnya. Maka, disinilah peran ayah dan ibu sangat diperlukan.



Untuk membangun keluarga sakinah, ada beberapa unsur pokok yang harus diperhatikan, diantaranya :

ü Pendidikan anak yang berkesinambungan; pada hakekatnya pendidikan yang utama adalah pendidikan non-formal (di rumah), khususnya pendidikan karakter. Maka dalam hal ini, seorang ibu berperan sebagai orangtua sekaligus guru.

ü Pengawasan tingkah laku anak di luar rumah; peranan ini sangat perlu dilakukan oleh orangtua, karena minimnya pengawasan orangtua akan berakibat fatal terhadap perkembangan dan masa depan anak.



Menjadi wanita modern konvensional, dalam arti wanita karier, di rumah sangatlah mudah asal memiliki kecakapan yang khusus plus kemampuan. Namun sebaliknya, wanita modern non-konvensional yang berkantor di luar rumah sangatlah sulit, terutama bagi wanita yang cenderung exibitionist, tapi sangatlah mudah bagi wanita yang lebih mementingkan hasil kolektif.

Wanita Modern ( Oleh: Pipit Siti Alawiyah )

Bangkitlah Wanita Indonesia

Dilahirkan sebagai seorang wanita Indonesia yang terikat dengan norma serta budaya ketimuran bukanlah merupakan sebuah pilihan. Namun, untuk menjadi seorang wanita Indonesia dengan memiliki wawasan modern tanpa harus melupakan kodrat yang telah ditakdirkan, adalah sebuah pilihan.

Wanita dan modernisasi adalah dua buah kata yang didefinisikan menjadi sebuah kalimat "wanita modern" bukan "modernisasi kaum wanita". Pengertian wanita modern disini jangan disalahtafsirkan menjadi sosok "super woman" yang tidak membutuhkan kehadiran sosok pria dalam kehidupannya atau memposisikan pria sebagai "pelengkap" semata hanya karena jabatan ataupun secara materi yang mereka peroleh.

Wanita modern adalah seorang wanita yang berwawasan modern tanpa harus melupakan kodratnya. Kaum wanita dapat terjun dan meraih prestasi yang setinggi-tingginya dalam bidang apapun, tanpa mengesampingkan kewajiban utamanya sebagai seorang ibu rumah tangga maupun istri dari seorang suami yang harus mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi penerus yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur, selain tetap menjaga kehormatan suami sebagai sosok kepala keluarga.

Sosok wanita modern Indonesia pun janganlah disamaartikan dengan sosok wanita modern di negara lain, mengingat kultur maupun norma kehidupan yang berbeda. Perbedaan tersebut tentunya akan mempengaruhi pula makna dari wanita modern itu sendiri.

Benarkah “Wanita Moderen” Mampu Menghadapi Tantangan Hidup?

Ada beberapa streotype umum yang disepakati perihal “siapakah” wanita modern itu? Dan biasanya, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Selalu berusaha mengaktualisasikan diri.
2. Ingin sejajar bahkan lebih dari kaum pria.
3. Tabu kalau dibilang konservatif, dan selalu ingin berubah sesuai perkembangan zaman.
4. Ingin selalu tampil beda.
5. Aktif dalam kegiatan-kegiatan, bahkan sering “turun ke lapangan” karena keingintahuannya yang kuat.
6. Selalu menggunakan perangkat, atau gadget yang high-tech dan up to date.

Singkatnya, penampilan dan gaya mereka layaknya para model majalah yang umumnya beredar di negeri ini; baik majalah mode, bisnis ataupun teknologi.

Disamping itu, beberapa ciri khas wanita modern lainnya adalah kesan-kesan seperti:

* Smart, proaktif dan profesional dalam bekerja.
* Trendy, cool, cantik, langsing, dan bugar dalam penampilannya sehari-hari.
* Ke gym, minimal seminggu tiga kali. Lalu sebulan sekali, biasanya mengunjungi ‘art event’, seperti pameran lukisan, nonton teater atau bioskop.
* Pergi berlibur ke tempat-tempat eksotik yang sering dikunjungi oleh para selebritis lokal maupun internasional. Biasanya lokasi-lokasi eksotik ini direkomendasikan oleh majalah-majalah papan atas seperti “life style”, “fashion” atau lainnya.

Walhasil, penampilan atau image adalah hal terpenting bagi mereka di dalam kehidupan, dan hal ini mereka lakukan dari pagi sehingga malam hari.

Akhirnya, akibat adanya tuntutan untuk selalu beradaptasi—baik dalam tingkah laku maupun penampilan—yang disesuaikan dengan zamannya masing-masing, maka para wanita modern malah kehilangan jatidiri mereka yang sebenarnya.

Dalam berbagai keadaan, mereka sering berpura-pura untuk tetap tampil sebagai wanita yang kosmopolitan. Hingga suatu titik, dimana hal itu malah semakin membuat mereka tertekan, kesepian dan stress. Titik balik dari fenomena ini bisa dilihat dari menjamurnya berbagai tempat untuk bermeditasi, seperti yoga dan lain sebagainya. Mereka juga mencoba untuk mencari ketenangan dengan menghadiri seminar-seminar yang menawarkan program untuk “mencari jati diri”, yang secara keseluruhan, menuju kepada pendidikan rohani. Namun ada juga yang pergi ke tempat-tempat kebugaran seperti spa yang menawarkan program “pencerahan” agar seperti baru terlahir .

Sungguh ironis bukan! Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai wanita yang “all out”. Yakni ingin menunjukan kepiawaian mereka di publik dan sanggup menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Namun di sisi lain, mereka justru merasa kesepian saat berada di puncak kemandiriannya. Bahkan terkadang, mereka tak sanggup lagi menyembunyikan hal itu sehingga bila menghadiri seminar atau majelis taklim tertentu, mereka seolah-olah baru saja menemukan kembali jati diri mereka yang hilang.

Beruntunglah para wanita yang dapat merasakan perbedaan itu, sehingga tanpa letih, mereka berupaya untuk menemukan kembali jati diri mereka yang hilang, yakni dengan cara mendalami sisi spiritual pada diri mereka sendiri.

Akan tetapi, banyak juga di antara mereka yang sekedar “latah” sehingga upaya-upaya itu malah membuat mereka semakin terbingungkan dan berakhir tanpa mengetahui siapakah diri mereka yang sebenarnya. Sebagaimana pepatah terkenal di Timur dan Barat yang sebenarnya dikutip dari ucapan sepupu Nabi Muhammad saw, yaitu Ali bin Abi Thalib as: “Barangsiapa mengenal dirinya, menegnal Tuhannya.”

Untuk itu, siapapun yang mengenal dirinya, maka secara otomatis, dia pun akan mengenal Tuhannya. Akibatnya, akan muncul suatu keyakinan di dalam diri bahwa dia telah menemukan ketenangan batin yang dapat menuntun mereka kepada perilaku yang lebih ‘smart’ di dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab, siapapun yang telah mencapai tahap-tahap dari penganalan diri sendiri, maka diapun akan mengetahui “how to deal with self“. Tujuan dari pengenalan diri adalah agar seseorang bisa memahami berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga tidak akan mengambil tindakan-tindakan yang bisa menyakiti diri sendiri.

Apabila seseorang sudah memahami tahap-tahap kesadaran jiwa, maka biasanya, mereka selalu ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Saat itu dia akan menyadari bahwa dirinya bukanlah “Mrs. Google” atau “Mrs. Yahoo”, karena dia sadar bahwa seluruh gerak-gerik kehidupannya bergantung kepada Kemurahan dan Kasih Sayang Tuhan. Dia juga meyakini bahwa segala hal yang telah dicapainya saat itu adalah yang terbaik.

Mungkin saja bahwa yang dicapainya saat ini, masih belum sesuai dengan seluruh harapan atau cita-citanya. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa seluruh kehendak dirinya bukan hal yang sempurna, sehingga boleh jadi sebagian dari kehendaknya itu malah akan memberikan dampak buruk atas kehidupannya di kemudian hari.

Hidup kita menjadi lebih sederhana dan indah bila sudah memahami tahap pengenalan diri sendiri. Alasannya, kita dengan mudah akan mampu mengukur kemampuan masing-masing. Dan pada saat yang sama, kita tahu bagaimana cara menempatkan diri agar sesuai dengan posisi yang semestinya di dalam kehidupan. Yakni sebagaimana yang dipandukan oleh Sang Pencipta alam semesta.

Namun kebanyakan dari kita sering keliru di dalam memaknai hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Bahkan terkadang, kita sering memposisikan Tuhan agar Dia mematuhi segala kehendak dan harapan-harapan kita. Kita sering menganggap Tuhan seperti si penghuni lampu Aladin yang “make a wish”, lalu “simsalabim”, maka segala keinginan kita pun harus segera dikabulkan.

Tidakkah kita menyadari bahwa kitalah yang seharusnya menjadi hamba-Nya, dan bukan malah sebaliknya.

Di sini, jelas bahwa yang sebenarnya ingin dicari adalah diri mereka sendiri yang sudah lama mereka lupakan dan hampir-hampir mereka tidak mengenalinya lagi , karena mereka sibuk mencari sesuatu yang fatamargona yang terpental jauh dari ajaran Nabi saw dan keluarganya as.

Wanita adalah makhluk yang dimuliakan Allah swt, sehingga segala perilakunya haruslah terjaga. Sebenarnya, kedudukan kaum wanita dengan kaum pria itu sejajar. Sebab, wanita adalah partner kaum pria, dan mereka harus saling bermitra dan bukan malah bersaing seperti yang sering disalah artikan oleh kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari umat Muhammad saw.

Dengan penjelasan ini, sudah selayaknya kita menyadari bahwa mereka sebenarnya “going nowhere” dan dijamin, akan berakhir dengan “uncertainty” alias ketidakpastian, rasa hampa dan tidak memahami tujuan hidup.

Aneh memang! Apabila barang mereka hilang, maka mereka akan sibuk untuk mencarinya, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi, apabila jati dirinya yang hilang, maka mereka seolah-olah tidak peduli. Bahkan sampai-sampai ada yang lupa diri, sehingga banyak di antara mereka yang harus mengunjungi “shrink”untuk mendapatkan perawatan medis.

Apa yang dianjurkan Islam dari seorang wanita sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar kaum wanita menjaga kehormatan diri dengan sebaik-baiknya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan salah satu cara itu adalah dengan berpakaian sesuai panduan Al-Qur’an, dan bukan ala Barat atau Timur.

Sadarkah bahwa cara kita berpakaian, berdandan dan bertingkah laku sangat saat ini telah dipengaruhi oleh budaya bangsa Barat alias westernize yang sebenarnya tidak berhubungan dengan modernitas. Sayidina Ali bin Abu Thalib as di dalam Nahjul Balaghah mengatakan bahwa “Akal yang sempurna adalah akal yang taat kepada Sang Pencipta, barang siapa yang melanggar aturan-Nya, maka jelaslah bahwa akalnya itu lemah.”

Singkatnya, smart woman adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir,merenungi makna dan nilai kehidupan, dan bukan yang semata-mata meniru serta berpenampilan ala wanita barat.

Untuk itu, wanita yang berpendidikan dan mampu mengikuti perkembangan zaman (modern woman) adalah para wanita yang patuh dan taat kepada Perintah-Nya.

Ironisnya! Sebagian dari mereka hanya berbusana muslimah apabila menghadiri acara-acara khusus di majelis-majelis taklim atau mesjid-masjid. Padahal di saat yang sama, mereka mengakui dan mempercayai bahwa Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat Tuhan Yang Mahasuci.

Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa di dalam Al-Qur’an, Allah swt telah mengatur tata cara manusia berperilaku, termasuk berpakaian? Dan secara tegas, Al-Qur’an mewajibkan kaum Muslimah untuk berpakaian sesuai yang dijelaskan Allah swt.

Apabila kita percaya dan konsekuen dengan yang disampaikan Al-Qur’an, maka kita seharusnya mematuhi rambu-rambu tersebut, sebagaimana kita mematuhi peraturan di kantor yang ditetapkan oleh para pemiliknya. Namun seringkali kita merasa takut terkena skors di kantor apabila kita melanggar salah satu aturannya. Tapi anehnya! Kita dengan santai melanggar dan bahkan mengabaikan perintah Tuhan yang memberikan kehidupan dan rezeki-Nya kepada kita secara tidak terbatas. Bahkan rezeki kantor kita pun bergantung kepada Karunia dan Rahmat Allah swt.

Apa gerangan yang terjadi dengan para wanita muslimah saat ini? Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa selama ini, kita mendapatkan limpahan nikmat dari Tuhan semesta alam? Akan tetapi, pernahkah kita mensyukuri hal itu?

Cobalah bandingkan bila kita diberi bonus atau hadiah dari seseorang, maka kita akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih dengan berbagai cara, bahkan sering kali “para wanita zaman modern” saat ini mengucapkan terima kasih dengan cara “pika-piki” atau langsung memuji-muji segala kebaikannya! Rasionalkah cara berpikir dan tindakan kita selama ini?!

Sudahkah kita berterima kasih dan mensyukuri segala nikmat Allah swt yang diberikan-Nya setiap saat itu?

Dengan demikian, sangat jelas bahwa sebaik-baik wanita adalah yang senantiasa berupaya untuk menjaga kehormatannya, karena dari wanita solehah inilah akan lahir para pemimpin yang berakhlak mulia.

Bayangkan jika para wanita muslimah dinegeri kita patuh dan taat kepada perintah-Nya? Barangkali negeri ini tidak akan menjadi seperti yang kita lihat saat ini?

Berjuanglah untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya…

Cintailah Tuhan, karena dengan mencintai-Nya, maka niscaya… cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan!

Oleh: Ema Rachman